Pemuda dan Jihad melawan Nafsu

Pemuda dan Jihad melawan Nafsu
Pengarang
Subdit Kepustakaan Islam 
Instansi
Kementerian Agama RI 
Kategori
Sumpah Pemuda 
Statistik Data
 
Tgl. Publish
Minggu, 01 November 2026 

Pemuda dan Jihad melawan Nafsu

الْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Jemaah Jumat rahimakumullah, Pada kesempatan yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan jemaah sekalian. Mari kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Kita mengenang para pemuda yang pada tahun 1928 berani mengesampingkan perbedaan demi satu tujuan besar: Indonesia yang satu. Hari ini, tantangan pemuda berbeda. Kita tidak lagi berjuang melawan penjajahan, seperti para pendahulu kita. Namun, bukan berarti perjuangan telah selesai. Kita masih menghadapi tantangan yang tidak kalah berat, yaitu menjaga diri dari pengaruh buruk arus zaman.

Kita hidup pada masa ketika informasi datang tanpa henti. Media sosial menawarkan berbagai hiburan dan kesenangan dunia. Namun, di balik itu, ada godaan yang dapat menjauhkan kita dari nilai-nilai agama. Contohnya, media sosial banyak mendorong kita untuk berkata kasar, mengecam, memaki, dan menghina orang lain. Media sosial juga membuat emosi tak terkendali dan menumbuhkan keinginan untuk mendapatkan apa pun tanpa pedulikan halal dan haram. Karena itu, salah satu perjuangan penting bagi pemuda hari ini adalah berjuang melawan hawa nafsu dalam dirinya sendiri.

Jemaah Jumat rahimakumullah,

Kata hawâ yang secara harfiah berarti keinginan, meliputi keinginan yang baik maupun yang buruk. Jadi, hawa nafsu tidak selalu berarti buruk. Keinginan untuk belajar, bekerja, dan membangun keluarga juga didorong oleh hawa nafsu. Namun, keinginan harus dikendalikan agar tidak membawa keburukan. Dibutuhkan iman, akal sehat, dan nilai-nilai kebenaran untuk mengendalikan nafsu. Keinginan untuk berhasil merupakan sesuatu yang wajar. Namun, jika hal tersebut diraih dengan menipu, merugikan orang lain, atau menghalalkan segala cara, keinginan itu telah membawa kita ke jalan yang salah. Allah Swt. mengingatkan kita dalam Surah An-Nazi‘at ayat 40–41:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ ۝٤٠ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ ۝٤١

“Adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.”

Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang yang takut kepada Allah akan berusaha menahan dirinya dari perbuatan yang dilarang dan tidak begitu saja mengikuti keinginan yang menyesatkan. Ayat ini mengajarkan bahwa orang yang kuat bukanlah orang yang selalu menuruti keinginannya. Justru orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan diri ketika keinginan itu membawa keburukan.

Jemaah Jumat yang berbahagia,

Rasulullah saw. juga mengingatkan tentang arti kekuatan yang sesungguhnya. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, beliau bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.

“Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat, melainkan orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”

Hadis ini mengingatkan bahwa kita dianggap kuat dan perkasa jika kita mampu menahan amarah. Betapa banyak hubungan yang rusak karena seseorang tidak mampu menjaga lisannya. Bahkan, di ruang digital, satu kalimat yang ditulis tanpa pertimbangan dapat melukai orang lain dan menimbulkan persoalan panjang.

Maka, pemuda yang hebat bukan sekadar pemuda yang berani berbicara, tetapi juga yang tahu kapan harus menahan diri. Bukan hanya pemuda yang memiliki cita-cita tinggi, tetapi yang berusaha meraihnya dengan cara yang benar.

Jemaah Jumat rahimakumullah,

Lalu, bagaimana cara melatih diri agar tidak mudah dikendalikan hawa nafsu? Pertama, awali hari dengan niat yang baik. Sebelum memulai aktivitas, luangkan waktu untuk meluruskan niat dan memohon pertolongan Allah. Tanamkan tekad untuk menjaga diri dari perbuatan tercela. Kita dapat berdoa:

“Ya Allah, aku berniat menjaga diriku dari nafsu yang menjerumuskan kepada keburukan. Bimbinglah aku agar mampu menjaga pandangan, lisan, pergaulan, dan perbuatanku. Kuatkanlah aku untuk memilih yang benar, meskipun tidak selalu mudah.”

Kedua, kenali dan jauhi hal-hal yang membawa kita pada keburukan. Setiap orang memiliki kelemahan yang berbeda. Ada yang mudah terpancing emosi. Ada yang mudah terbawa pergaulan. Ada juga yang tergoda untuk berbohong demi keuntungan. Kita perlu mengenali kelemahan diri sendiri dan berusaha menjauhi keadaan yang membuat kita mudah terjerumus.

Ketiga, isi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat. Isilah waktu dengan belajar, bekerja, beribadah, berolahraga, dan kegiatan positif lainnya. Energi pemuda harus diarahkan untuk menghasilkan karya dan manfaat, bukan habis untuk hal-hal yang merugikan diri sendiri. Jangan menunggu menjadi manusia sempurna untuk memulai perubahan. Yang penting, setiap hari kita berusaha menjadi lebih baik daripada hari sebelumnya.

 

Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Peringatan Sumpah Pemuda seharusnya tidak berhenti pada upacara, slogan, atau pernyataan ikrar. Semangat Sumpah Pemuda perlu diwujudkan dalam kehidupan nyata, termasuk melalui kemampuan mengendalikan diri.

Kita membutuhkan pemuda yang berani bermimpi, tetapi tetap rendah hati. Pemuda yang menguasai teknologi, tetapi tidak kehilangan akhlak. Pemuda yang mencintai bangsa, sekaligus menjaga nilai-nilai agama. Sebab, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi ilmu yang dimiliki generasinya. Hal tersebut juga ditentukan oleh seberapa kuat mereka menjaga hati, mengendalikan diri, dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Semoga Allah Swt. membimbing generasi muda Indonesia menjadi generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, mampu mengendalikan hawa nafsu, serta sanggup menjaga persatuan dan membangun negeri.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khotbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ. يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيمِ سُلْطَانِكَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا . اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَنَا، وَاهْدِ قُلُوبَهُمْ، وَحَصِّنْهُمْ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَأَعِنْهُمْ عَلَى طَاعَتِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا سُوءَ الْأَخْلَاقِ وَالْأَهْوَاءِ وَالْأَدْوَاءِ، وَارْزُقْنَا نُفُوسًا مُطْمَئِنَّةً، وَقُلُوبًا خَاشِعَةً، وَأَلْسِنَةً صَادِقَةً، وَأَعْمَالًا صَالِحَةً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

 

Form Generate Sitasi

Kolom Komentar

Support kami dengan komentar positif dan ulasan yang membangun.

* Anda Wajib login Untuk Menulis Komentar/Review.

Subscribe ELIPKSI

Jangan Lewatkan

Jangan sampai Anda terlewatkan update buku terbaru dari ELIPSKI, segera berlanganan gratis melalui email.

Verifikasi Google pada formulir ini hanya berlaku di situs Kemenag.

Buka formulir berlangganan